A.
Judul
Penggunaan Kolaborasi Model Quantum Teaching dan Snowball Throwing Untuk Meningkatkan
Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS tentang Negara-Negara
Asia Tenggara (PTK pada Siswa Kelas VI SD Negeri 3 Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis Tahun Pelajaran 2010/2011)
B.
Nama Penulis
Komariah, S.Pd.SD.
C.
Bidang Kajian
Ilmu
Pengetahuan Sosial
D.
Abstrak

Kata Kunci: Aktivitas dan Hasil
Belajar, Pembelajaran IPS, Model Quantum
Teaching dan Snowball Throwing
Aktivitas dan hasil belajar
siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, Tahun
Pelajaran 2010/2011 dalam pembelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara
Asia Tenggara, kurang mencapai harapan, yang disebabkan oleh penggunaan model
pembelajaran kurang bervariatif. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan
kolaborasi model pembelajaran Quantum
Teaching dan Snowball Throwing.
Untuk menguji efektivitas kedua model pembelajaran tersebut dalam rangka
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, menempuh prosedur penelitian
tindakan kelas, yang dilaksanakan selama dua siklus. Setiap siklusnya menempuh
empat tahapan berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan
(4) refleksi. Melalui berbagai teknik dan instrumen pengumpul data, diperoleh
hasil penelitian.Untuk kemudian dilakukan pembahasan berdasarkan teknik yang
telah ditetapkan.Akhirnya diperoleh suatu simpulan guna menjawab pokok masalah
penelitian.Simpulan dimaksud sebagai berikut.
1.
Langkah-langkah
penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak
dalam pembelajaran IPS tentang materi ajar negara-negara Asia Tenggara,
meliputi: (1) menyusun rencana sesuai dengan ketentuan, (2) melaksanakan KBM
sesuai dengan rencana, (3) mengevaluasi kemampuan siswa dalam memenuhi setiap
tuntutan pembelajaran, dan (4) menindaklanjuti hasilnya dengan cermat.
2.
Peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS tentang materi ajar
Negara-negara Asia Tenggara setelah digunakan kolaborasi penggunaan model Quantum
Teaching dan Snowball Throwing, terjadi secara bertahap. Peningkatan aktivitas
belajar siswa secara bertahap tersebut ditunjukan dalam beberapa hal, seperti
partisipasi, minat, dan kemampuan melakukan presentasi. Demikian pun dengan
peningkatan hasil belajarnya, secara bertahap mampu ditunjukkan siswa dalam
memenuhi setiap tuntutan pembelajaran.
3.
Penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing dalam pembelajaran IPS
tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara terbukti dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak.
E.
Pendahuluan
a.
Latar Belakang
Masalah
Makna dan hakikat belajar diartikan sebagai proses membangun
makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna
tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu
disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa (Indra
Jati Sidi, 2004:4). Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah
jadi bentukan guru. Buktinya, hasil ulangan siswa berbeda-beda padahal mendapat
pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama.
Pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada
pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan
semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil
dari pemahaman dan penemuannya sendiri. Dalam konteks ini siswa mengalami dan
melakukannya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa
sepenuhnya untuk merumuskan sendiri suatu konsep. Keterlibatan guru hanya
sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran tersebut.
Merunut Kurikulum Berbasis Kompetensi yang disempurnakan
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bahwa setiap individu mempunyai
potensi yang harus dikembangkan, maka proses pembelajaran yang cocok adalah
yang menggali potensi anak untuk selalu kreatif dan berkembang.
Namun kenyataan di lapangan belum menunjukkan ke arah
pembelajaran yang bermakna.Para pendidik masih perlu penyesuaian dengan KTSP,
para guru sendiri belum siap dengan kondisi yang sedemikian plural sehingga
untuk mendesain pembelajaran yang bermakna masih kesulitan.Sistem pembelajaran
duduk tenang, mendengarkan informasi dari guru sepertinya sudah membudaya sejak
dulu, sehingga untuk mengadakan perubahan ke arah pembelajaran yang aktif,
kreatif, menyenangkan agak sulit.
Berdasarkan pengamatan awal terhadap proses pembelajaran IPS
di SDNegeri 3 Cimerak diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran,
guru belum memberdayakan seluruh potensi dirinya sehingga sebagian besar siswa
belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti
pelajaran lanjutan. Beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat
pemahaman.Siswa baru mampu menghafal fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan
gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan
dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang
kontekstual.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) juga tidak luput
dari kecenderungan proses pembelajaran teacher
centered. Kondisi demikian tentu membuat proses pembelajaran hanya dikuasai
guru. Apalagi pembelajaran IPS merupakan mata pelajaran sarat materi sehingga
siswa dituntut memiliki pemahaman yang holistik terhadap materi yang
disampaikan guru.
Upaya untuk membangkitkan motivasi siswa kelas VI SDNegeri 3
Cimerak dalam pembelajaran IPS sudah dilakukan guru kelas dengan berbagai macam
cara, seperti memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mengemukakan gagasan,
serta mendesain pembelajaran dalam bentuk diskusi kelompok. Namun demikian,
hasil pembelajaran IPS pada Ulangan Harian Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011
belum begitu memuaskan. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai IPS
yang hanya 71,29 berada pada urutan ke-4 setelah Bahasa Indonesia (rata-rata
79,22), Ilmu Pengetahuan Alam (rata-rata 76,35), dan Matematika (rata-rata
74,12).
Terkait belum optimalnya hasil belajar IPS siswa kelas VI
SDNegeri 3 Cimerak maka penulis berupaya untuk menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwing secara kolaborasi
sebagai salah satu alternatif pembelajaran bermakna yang bermuara pada
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Berdasarkan kondisi tersebut maka penulis tergerak untuk
melakukan penelitian tindakan kelas yang berfokus pada masalah seperti telah
diuraikan di atas, yakni penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwinguntuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD
Negeri 3 Cimerak pada mata pelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia
tenggara.
b.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan
tiga pokok masalah yang harus diungkap jawabannya melalui penelitian tindakan
kelas ini.Kedua pokok masalah tersebut dirumuskan melalui dua pertanyaan
berikut.
1.
Bagaimana langkah-langkah menggunakan
kolaborasi model Quantum Teaching dan
Snowball Throwing untuk meningkatkan
hasil belajar IPS tentang materi negara-negara Asia Tenggara pada siswa kelas
VI SD Negeri 3 Cimerak?
2.
Bagaimana peningkatan hasil belajar
siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang materi Negara-negara
Asia Tenggara setelah digunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwing?
3.
Apakah penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwingdapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang
materi Negara-negara Asia Tenggara?
c.
Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk
mendeskripsikan upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD
Negeri 3 Cimerak pada mata pelajaran IPS tentang materi negara-negara Asia
Tenggara melalui kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball
Throwing. Secara khusus dari tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1.
Mendeskripsikan langkah-langkah
menggunakan kolaborasi model Quantum
Teaching dan Snowball Throwing
untuk meningkatkan hasil belajar IPS tentang materi negara-negara Asia Tenggara
pada siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak.
2.
Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar
siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang materi Negara-negara
Asia Tenggara setelah digunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwing.
3.
Mendeskripsikan penggunaan
kolaborasi model Quantum Teaching dan
Snowball Throwingdapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang
materi Negara-negara Asia Tenggara.
d.
Definisi Operasional
Untuk menghindari salah pengertian
atau salah tafsir tentang makna istilah yang digunakan dalam penelitian ini,
maka perlu dijelaskan makna beberapa definisi operasional sebagai berikut :
1.
Hasil Belajar adalah kemampuan yang
dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotor. Derajat kemampuan yang diperoleh siswa diwujudkan
dalam bentuk nilai hasil belajar IPS.
2.
IPS adalah mata pelajaran yang
mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial serta berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai,
sikap, dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia
(Depdiknas, 2004).
3.
Quantum Teaching
dan Snowball Throwing adalah model
pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, baik segi fisik, mental, dan
emosionalnya dengan TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi,
dan Rayakan) yang diramu dengan kegiatan melempar pertanyaan seperti
"melempar bola salju".
Jadi yang dimaksud dengan penggunaan
kolaborasi model Quantum Teaching dan
Snowball Throwing dalam pembelajaran
IPS adalah upaya guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran IPS secara
holistik, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor pada siswa kelas VI SD
Negeri 3 Cimerak.
F.
Kajian Teori,
Kerangka Pikir, dan Hipotesis Tindakan
a.
Kajian Teori
a)
Implementasi
Model Quantum Teachingdan Snowball Throwing
Kata Quantum sendiri
berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan
belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan
lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Dalam Quantum Teaching
bersandar pada konsep ‘bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia
kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan
materi yang mesti dipelajari siswa.Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan
bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Dengan QuantumTeaching
kita dapat mengajar dengan memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan
pada fungsinya masing-masing.Penelitian di Universitas California mengungkapkan
bahwa masing-masing otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang
berbeda.
Otak kiri menangani angka, susunan, logika, organisasi, dan hal
lain yang memerlukan pemikiran rasional, beralasan dengan pertimbangan yang
deduktif dan analitis. Bagian otak ini yang digunakan berpikir mengenai hal-hal
yang bersifat matematis dan ilmiah.Kita dapat memfokuskan diri pada garis dan
rumus, dengan mengabaikan kepelikan tentang warna dan irama.
Otak kanan mengurusi masalah pemikiran yang abstrak dengan penuh
imajinasi. Misalnya warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yang
memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Pemikiran
otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan
matematis.Kita dapat melibatkan diri dengan segala rupa dan bentuk, warna-warni
dan kelembutan, dan mengabaikan segala ukuran dan dimensi yang mengikat.
Prinsip dari Quantum
Teaching, yaitu:
1. Segalanya berbicara,
lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan
tentang belajar.
2. Segalanya bertujuan,
siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan.
3. Pengalaman sebelum
konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep.
4. Akui setiap usaha,
menghargai usaha siswa sekecil apa pun.
5. Jika layak
dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang
terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan,
berkata: bagus!, baik!, dll.
Kerangka Rancangan Belajar Quantum
Teaching yang dikenal sebagai TANDUR
1.
TUMBUHKAN. Tumbuhkan
minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat Bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan
kehidupan pelajar.
2.
ALAMI. Ciptakan atau
datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
3.
NAMAI. Sediakan kata
kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”.
4.
DEMONSTRASIKAN.
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”.
5.
ULANGI. Tunjukkan
pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu
ini”.
6.
RAYAKAN. Pengakuan untuk
penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
Secara aplikatif, model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball
Throwing bertalian erat dengan teori belajar behavioristik dan teori
perkembangannya Piaget. Pandangan Behaviouristik, yang melahirkan Teori Belajar
Koneksionisme dan Teori Belajar Kondisioning. Teori belajar Koneksionisme
dengan tokohnya Thorndike berpendapat bahwa belajar merupakan proses
pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Bilamana terjadi
koneksi antara R - S dan diikuti dengan keadaan yang memuaskan, maka koneksi
itu menjadi lebih kuat. Sebaliknya bila koneksi, diikuti dengan keadaan yang
tidak memuaskan, maka kekuatan koneksi akan menjadi berkurang (Hilgard dan
Bower dalam TIM MKDK IKIP Semarang, 1990:110).
Hal lain yang mendasari pentingnya penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwing adalah paradigma
pembelajaran efektif yang merupakan rekomendasi UNESCO, yakni: belajar
mengetahui (learning to know),
belajar melakukan (learning to do),
belajar hidup bersama (learning to live
together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001:5).
Snowball artinya bola salju sedangkan throwing artinya melempar. Snowball
Throwing secara keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Adapun
langkah-langkah pembelajaran Snowball
Throwing sebagai berikut: 1) guru menyampaikan materi yang akan disajikan,
2) guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok
untuk memberikan penjelasan tentang materi, 3) masing-masing ketua kelompok
kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang
disampaikan oleh guru ke temannya, 4) masing-masing siswa diberikan satu lembar
kertas kerja, untuk menulis satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang
sudah di jelaskan oleh ketua kelompok, 5) kertas tersebut dibuat seperti bola
dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 5 menit. Setelah
siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan pada siswa tersebut
untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut
secara bergiliran, 6) evaluasi, dan 7) penutup (www.puskur_balitbang_depdiknas.com).
b) Hasil
Belajar IPS
Hasil belajar IPS adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa
setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotor.Derajat kemampuan yang diperoleh siswa diwujudkan dalam bentuk nilai
hasil belajar IPS.
b.
Kerangka Berpikir
Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwing merupakan salah satu
wujud aplikasi pembelajaran bermakna dalam mata pelajaran IPS.Melalui model
pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwing, siswa dilibatkan
secara holistik baik aspek fisik, emosional, dan intelektualnya.
Serangkaian kegiatan penerapan
kolaborasi model pembelajaran Quantum
Teaching dan Snowball Throwing
merupakan refleksi dari sistem Tandur yakni Tumbuhkan (memberikan apersepsi),
Alami (memasangkan kartu kata dan mengomentari salah satu negara ), Namai
(menyimpulkan materi), Demostrasikan (melakukan Snowball Throwing), Ulangi (merangkum materi dalam lagu), dan
Rayakan (memberi reward).
c.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah kalimat pernyataan
penelitian yang dihasilkan dari hasil kajian teoretis dunia pustaka.Pernyataan
ini merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang dikaji dalam penelitian
(Purwadi Suhandini, 2000:7).Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah
dengan menerapkan model pembelajaran Quantum
Teaching dan Snowball Throwing
ada peningkatan hasil belajar IPS materi negara-negara Asia Tenggara pada siswa
kelas VI SDNegeri 3 Cimerak. Adapun indikator kinerjanya adalah sebagai
berikut:
1.
Guru terampil mengelola proses
pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball
Throwing.
2.
Terjadi perubahan sikap dan perilaku
siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS yang ditandai dengan aktivitas siswa
minimal baik dalam lembar observasi.
3.
85% siswa kelas VI SDN Anjasmoro
Semarang mengalami ketuntasan belajar dalam materi negara-negara Asia Tenggara.
G.
Metodologi Penelitian
a.
Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitianadalah
siswa
kelas VI SD Negeri 3 Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, Tahun
Pelajaran 2010/2011, yang
berjumlah 38 orang yang sedang menempuh semester 2 dalam pembelajaran mata
pelajaran matematika.
b.
Setting Penelitian
Setting dalam
penelitian ini meliputi: tempat dan waktu penelitian, serta siklus PTK.Lebih
jelasnya mengenai hal itu, sebagai berikut.
a)
Tempat Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VI SD Negeri 3Cimerak, Kecamatan Cimerak,
Kabupaten Ciamis, Tahun Pelajaran 2010/2011. Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk
memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan proses pembelajaran mata pelajaran IPS
tentang materi negara-negara Asia Tenggara.
b)
Waktu Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011. Penentuan
waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa
siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.
![]() |
c)
Siklus PTK
PTK ini
dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa kelas
VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang materi ajarnegara-negara Asia
Tenggara melalui penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing.
d)
Sumber Data
Sumber
data penelitian ini adalah siswa, guru, teman sejawat dan kolabolator.Lebih
jelasnya, sebagai berikut.
1.
Siswa
Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa
kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam pembelajaran IPS tentang materi negara-negara
Asia Tenggara setelah digunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing.
2.
Guru
Untuk melihat keberhasilan tingkat implementasi
pembelajaran IPS tentang materi negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan
kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing untuk
meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak.
3.
Teman Sejawat dan Kolabolator
Teman sejawat dan kolabolator dimaksudkan
sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprehensif, baik
dari sisi siswa maupun guru.
e)
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah
tes, observasi, wawancara, dan diskusi.
1.
Tes
dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa.
2.
Observasi
dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS tentang
materi negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan kolaborasi model Quantum
Teaching dan Snowball Throwing.
3.
Wawancara
dipergunakan untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran
IPS tentang materi negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan kolaborasi
model Quantum
Teaching dan Snowball Throwingdalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD
Negeri 3 Cimerak.
4.
Diskusi
antara guru, teman sejawat, dan kolabolator untuk merefleksi hasil siklus PTK.
f)
Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpul data penelitian ini
meliputi lembar tes, lembar observasi, lembar wawancara, dan lembar diskusi.
g)
Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada
setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara
deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan
yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
1.
Hasil
belajar: dengan menganalisis nilai rata-rata hasil evaluasi pada setiap siklus.
Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2.
Aktivitas
siswa dalam PBM: dengan menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam PBM.
Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3.
Implementasi
pembelajaran IPS tentang materi negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan
kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing, dengan cara menganalisis
tingkat keberhasilan, kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang
berhasil, dan tidak berhasil.
h)
Prosedur Penelitian
Alur penelitian ini menempuh
prosedur penelitian tindakan kelas, yang berupa siklus perbaikan pembelajaran
yang dilakukan secara kolaborasi antara guru pelaksana tindakan, teman sejawat
dan kolabolator, serta siswa. Dalam setiap siklusnya, terdapat empat tahapan,
antara lain: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4)
refleksi.
H.
Hasil Penelitian dan
Pembahasan
a.
Hasil Penelitian
Siklus I
Pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar IPS tentang negara-negara Asia Tenggara yang disajikan dengan
menggunakan kolaborasi model model
pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwingpada siklus I, cukup
memberi dampak yang terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD
Negeri 3 Cimerak. Meski demikian, pengamat menilai dan mencatat beberapa hal,
seperti berikut.
1.
Aktivitas
guru dan siswa pada tahap kegiatan awal, tampak ada kesan kaku. Hal ini disebabkan
oleh karena mereka belum terbiasa dalam memulai kegiatan pembelajaran seperti
itu.
2.
Motivasi
yang diberikan guru, cukup menyentuh perasaan siswa. Hal ini tampak dari
semangat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.
3.
Sebagian
besar waktu pada kegiatan inti, lebih banyak digunakan guru untuk membimbing
dan mengarahkan siswa agar berlaku sebagaimana yang diharapkan.
4.
Sebagian
besar siswa kurang aktif dalam setiap tahapan belajar. Hal ini karena mereka
belum terbiasa dengan kondisi yang diinginkan.
5.
Peran
fasilitator dan mediator masih kurang dilakukan secara profesional oleh guru.
Hal ini disebabkan oleh kurangnya penguasaan guru terhadap tugasnya ini dalam
kondisi pembelajaran yang diinginkan pada kedua model pembelajaran yang
dikolaborasikan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Atas dasar itu
terhadap kemampuan guru, pengamat memberikan penilaian seperti yang tertuang
pada tabel berikut.
Tabel
4.1
Kemampuan Guru
dalam Mengelola Kegiatan Pembelajaran pada Siklus 1
No.
|
Indikator Kemampuan
|
Nilai
|
|
Kuantitas
|
Kualitas
|
||
1
|
Kemampuan menguasai kondisi awal pembelajaran
|
58
|
Cukup Mampu
|
2
|
Kemampuan menjelaskan langkah-langkah
pembelajaran
|
58
|
Cukup Mampu
|
3
|
Kemampuan memotivasi siswa di awal
pembelajaran.
|
58
|
Cukup Mampu
|
4
|
Kemampuan mengondisikan siswa untuk mengikuti
kegiatan inti pembelajaran.
|
59
|
Cukup Mampu
|
5
|
Kemampuan menyajikan materi pembelajaran
|
57
|
Cukup Mampu
|
6
|
Kemampuan bertanya kepada siswa dan menjawab
pertanyaan dari siswa.
|
65
|
Cukup Mampu
|
7
|
Kemampuan membimbing dan mengarahkan siswa
dalam belajar.
|
62
|
Cukup Mampu
|
8
|
Kemampuan membahas tugas.
|
63
|
|
9
|
Kemampuan memberikan penghargaan kepada siswa
yang unggul dalam kemampuan memenuhi tuntutan pembelajaran.
|
65
|
Cukup Mampu
|
10
|
Kemampuan memberi simpulan sehubungan dengan
materi pembelajaran yang telah disampaikan kepada siswa.
|
60
|
Cukup Mampu
|
11
|
Kemampuan melaksanakan evaluasi dan mengawasi
jalannya evaluasi.
|
67
|
Cukup Mampu
|
12
|
Kemampuan memberikan bahan tindak lanjut.
|
59
|
Cukup Mampu
|
13
|
Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran.
|
63
|
Cukup Mampu
|
Jumlah
|
794
|
|
|
Rata-rata
|
61,1
|
|
Keterangan
:
Nilai 76, 00 - 100,00,
berarti mampu
Nilai 56,00 - 75,00, berarti cukup mampu
Nilai 26,00 - 55,00, berarti kurang mampu
Nilai 1,00 -
25,00, berarti tidak mampu
Di samping
menilai kemampuan guru, pengamat pun menilai aktivitas belajar siswa, baik
dilihat dariminat, perhatian, partisipasi, maupun persentasi, seperti tertuang pada
tabel berikut
Tabel 4.2
Akltivitas Siswadalam Mengikuti Pembelajaran Siklus 1
No.
|
Subjek
|
Minat
|
Perhatian
|
Partisipasi
|
Presentasi
|
||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Subjek 01
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
2
|
Subjek 02
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
3
|
Subjek 03
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
4
|
Subjek 04
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
5
|
Subjek 05
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
6
|
Subjek 06
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
7
|
Subjek 07
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
8
|
Subjek 08
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
9
|
Subjek 09
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
10
|
Subjek 10
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
11
|
Subjek 11
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
12
|
Subjek 12
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
13
|
Subjek 13
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
14
|
Subjek 14
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
15
|
Subjek 15
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
16
|
Subjek 16
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
17
|
Subjek 17
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
18
|
Subjek 18
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
19
|
Subjek 19
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
20
|
Subjek 20
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
21
|
Subjek 21
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
22
|
Subjek 22
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
23
|
Subjek 23
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
24
|
Subjek 24
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
25
|
Subjek 25
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
26
|
Subjek 26
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
27
|
Subjek 27
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
Keterangan:
Nilai 4 : Baik
Nilai 3 : Cukup Baik
Nilai 2 : Kurang Baik
Nilai 1 : Tidak Baik
Selain itu, hasil belajar siswa pada
siklus I pun mengalami peningkatan. Hal ini dapat terjadi karena adanya
perubahan pada aktivitas belajar siswa.Berdasarkan evaluasi siklus I, diperoleh
nilai hasil belajar siswa seperti tertuang pada tabel berikut.
Tabel 4.3
Nilai Hasil Belajar Siswa pada Siklus 1
No.
|
Nama Siswa
|
Sesudah PTK
Siklus 1
|
||
Tuntutan 1
|
Tuntutan 2
|
NK
|
||
1
|
Subjek 01
|
20
|
49
|
69
|
2
|
Subjek 02
|
18
|
42
|
70
|
3
|
Subjek 03
|
17
|
43
|
70
|
4
|
Subjek 04
|
16
|
52
|
68
|
5
|
Subjek 05
|
20
|
50
|
70
|
6
|
Subjek 06
|
20
|
55
|
75
|
7
|
Subjek 07
|
18
|
50
|
68
|
8
|
Subjek 08
|
15
|
46
|
61
|
9
|
Subjek 09
|
20
|
65
|
85
|
10
|
Subjek 10
|
20
|
40
|
60
|
11
|
Subjek 11
|
19
|
51
|
70
|
12
|
Subjek 12
|
15
|
43
|
58
|
13
|
Subjek 13
|
20
|
56
|
76
|
14
|
Subjek 14
|
23
|
66
|
89
|
15
|
Subjek 15
|
13
|
42
|
55
|
16
|
Subjek 16
|
13
|
44
|
57
|
17
|
Subjek 17
|
13
|
55
|
58
|
18
|
Subjek 18
|
24
|
66
|
90
|
19
|
Subjek 19
|
14
|
43
|
57
|
20
|
Subjek 20
|
13
|
47
|
60
|
21
|
Subjek 21
|
14
|
43
|
57
|
22
|
Subjek 22
|
13
|
47
|
60
|
23
|
Subjek 23
|
20
|
49
|
69
|
24
|
Subjek 24
|
18
|
42
|
70
|
25
|
Subjek 25
|
17
|
43
|
70
|
26
|
Subjek 26
|
16
|
52
|
68
|
27
|
Subjek 27
|
20
|
50
|
70
|
Pada tabel di atas,
diketahui keseluruhan siswa memperoleh nilai hasil belajar lebih dari kriteria
ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan, yaitu nilai 55.
Untuk
mengetahui keberhasilan pembelajaran siklus I, telah dilakukan refleksi terhadap kinerja guru dan siswa, yang
dilakukan secara kolaborasi antara guru pelaksana tindakan dan pengamat.Adapun
hasilnya, sebagai berikut.
1.
Kemampuan
guru dalam mengelola proses pembelajaran IPS tentang materi ajar negara-negara Asia
Tenggara yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwingpada siklus I, dinilai cukup
baik. Bahkan lebih baik dari sebelumnya.
2.
Aktivitas
belajar siswa dalam mengikuti setiap tahapan pembelajaran IPS tentang materi
ajarnegara-negara Asia Tenggara yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing pada siklus I, sedikit
banyaknya sudah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Meski belum sebaik yang diharapkan, hal ini dapat dimaklumi karena mereka
kurang terbiasa mengikuti proses belajar seperti ini. Dari 27 orang siswa, yang
sebelumnya diketahui ada 20 orang yang tidak partisipasi, tidak berminat, tidak
perhatian, dan tidak bermotivasi meningkat menjadi kurang partisipasi, kurang
berminat, kurang perhatian, dan kurang mampu presentasi. Sementara itu, 7 orang
siswa lainnya yang sebelumnya diketahui kurang partisipasi, kurang berminat,
kurang perhatian, dan kurang bermotivasi menjadi cukup partisipasi, cukup
berminat, cukup perhatian, dan cukup mampu presentasi.
3.
Dari
27 orang siswa baru diketahui ada 20 orang (63,15%) yang dinyatakan cukup mampu
memenuhi setiap tuntutan pembelajaran IPS tentang materi ajar negara-negara Asia
Tenggara yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing. Sementara itu, selebihnya dari mereka, yakni
7 orang siswa (36,85%) dinyatakan kurang mampu memenuhi tuntutan tersebut.
4.
Belum
tercapainya target kinerja yang diharapkan, baik oleh guru maupun siswa lebih
disebabkan karena masing-masing belum terbiasa dengan langkah-langkah kegiatan belajar
mengajar berdasarkan tuntutan kolaborasi model
Quantum Teaching dan Snowball Throwing. Itu sebabnya, masih
ada beberapa orang siswa yang dinilai kurang mampu memenuhi setiap tuntutan
pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pada PTK siklus II, akan
diupayakan hal-hal berikut.
1)
Persiapan
guru harus ditingkatkan, terutama dalam memahami langkah-langkah pengelolaan
proses pembelajaran IPS tentang materi ajar negara-negara Asia Tenggara yang
disajikan dengan menggunakan kolaborasi model
Quantum Teaching dan Snowball Throwing.
2)
Guru
harus mampu mempertahankan dan meningkatkan hal-hal yang sudah cukup baik dalam
mengelola proses pembelajaran siklus I. Guru harus mampu meningkatkan
partisipasi, minat, perhatian, dan kemampuan siswa dalam presentasi. Hal-hal
yang dianjurkan untuk itu, di antaranya mengaktifkan siswa melalui tanya jawab,
pemberian tugas secara kelompok, pemberian penghargaan dan sanksi kepada siswa
yang layak untuk mendapatkannya.
3)
Kinerja
siswa meski meningkat, tetapi belum mencapai harapan, baik dilihat dari
partisipasi, perhatian, minat, dan kemampuan presentasi. Hal ini lebih
disebabkan oleh karena siswa belum terbiasa dengan langkah-langkah belajar berdasarkan
tuntutan kolaborasi model pembelajaran Quantum Teaching dan Snowball Throwing. Atas dasar itu,
kepada siswa disarankan agar siklus II mulai membiasakan diri dengan
langkah-langkah belajar yang diinginkan, dengan mengikuti secara
sungguh-sungguh tentang apa yang dianjurkan oleh guru. Selain itu, siswa pun
harus:
(1)
miliki
persiapan fisik dan mental, agar dapat berkonsentrasi pada langkah-langkah
belajar yang akan dijelaskan guru;
(2)
bertanya
kepada guru apabila ada di antara langkah-langkah belajar yang kurang dan atau
belum dipahami dengan baik;
(3)
belajar
secara sungguh-sungguh, yang ditunjukkan dengan cara berpartisipasi secara
aktif, pusatkan perhatian pada apa yang sedang dipelajari, minat dan motivasi
belajar terus tingkatkan dengan cara fokus pada tujuan yang ingin dicapai
setelah mengikuti proses pembelajaran;
(4)
selain
itu, berusaha untuk mencapai penghargaan yang akan diberikan guru, dan takutlah
dengan sanksi yang akan diberikannya apabila kurang baik dalam proses dan hasil
belajar;
(5)
saling
belajar dengan baik, karena masing-masing memiliki kelebihan yang sangat
diperlukan oleh yang lain;
(6)
berjiwa
lapanglah dalam memberi dan menerima masukan yang ditujukan untuk kebaikan.
Siklus II
Pelaksanaan
pembelajaran IPS tentang materi ajarNegara-negara Asia Tenggara yang disajikan
dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwingdidasarkan pada hasil
refleksi siklus I. Ketentuan ini dapat diikuti dengan baik oleh guru maupun
siswa.
Pada siklus II ini tidak lagi terlihat adanya siswa yang tinggal diam tidak
turut ambil bagian dalam pembelajaran.Banyak siswa yang sebelumnya enggan untuk
bertanya sehubungan dengan kekurangpahamannya terhadap materi yang dipelajari, hal
ini tidak lagi terjadi.Adanya perubahan aktivitas belajar siswa pada siklus II
ini tidak terlepas dari upaya yang dilakukan guru.Hal ini dapat diketahui dari
catatan dan hasil penilaian pengamat, seperti rincian berikut.
1.
Aktivitas
guru dan siswa pada tahap kegiatan awal, mulai terbiasa dengan langkah-langkah
prapembelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara yang
disajikan dengan menggunakan kolaborasi model
Quantum Teaching dan Snowball Throwing. Guru dan siswa sudah tidak merasa kaku lagi,
sehingga kegiatan awal dapat berlangsung cukup baik dari sebelumnya (kegiatan
awal pada PTK siklus 1).
2.
Guru
cukup berhasil memotivasi siswa, dengan cara akan memberikan penghargaan (reward) bagi siapa saja di antara
siswanya yang berhasil mencapai hasil belajar lebih baik, dan kepada siswa yang
kurang berhasil akan diberikan sanksi berupa pemberian tugas individu yang akan
ditentukan nanti setelah proses pembelajaran siklus II berlangsung. Melalui
upaya tersebut, ada perubahan pada sikap siswa yang ditunjukkan oleh
partisipasi, perhatian, minat, dan kemampuan melakukan presentasi pada tahap
pratindakan.
3.
Pada
kegiatan inti siklus II, peran guru dan siswa sudah cukup mengenai sasaran.
Guru tidak lagi menghabiskan waktu untuk menyajikan materi, melainkan lebih
banyak membimbing dan mengarahkan siswa pada proses belajar yang sebenarnya
dalam memenuhi tuntutan pembelajaran. Demikian pun dengan proses belajar siswa,
tampak lebih baik dari sebelumnya, yang ditunjukkan oleh partisipasi
masing-masing, perhatian terhadap penjelasan guru dan tugas, minat dan kemampuan
melakukan presentasi. Tidak diketahui lagi adanya siswa yang kurang
bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran. Dari yang sebelumnya
segan untuk bertanya kepada guru, pada siklus II sudah mulai banyak siswa yang
berani bertanya kepada guru, terutama
tentang cara-cara memenuhi tuntutan pembelajaran.
4.
Terhadap
siswa yang mengalami kesulitan dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran,
guru memberikan jalan keluar dengan cara memahamkan siswa pada tuntutan
tersebut. Sebelum siswa dapat keluar dari kesulitannya, guru belum beranjak
dari tempat duduk siswa yang bersangkutan. Tindakan ini, disambut dengan baik
oleh siswa, dan karena itu pula yang bersangkutan dapat belajar lebih baik dalam
suasana yang menyenangkan.
5.
Guru
sudah mampu menebar pandangan kepada seluruh siswa, yang ditunjukkan oleh
perhatiannya pada siapa saja yang menghadapi kesulitan dalam memenuhi tuntutan
pembelajaran, maka segeralah ia membantu mencarikan jalan keluarnya hingga
lepas dari kesulitan tersebut.
6.
Saat
siswa sedang memenuhi tuntutan pembelajaran, guru berusaha memfasilitasi apa
yang dibutuhkan siswa. Oleh karena itu, proses belajar siswa tampak lebih
menyenangkan daripada sebelumnya.
Melengkapi
catatan hasil pengamatan di atas, pada tabel berikut ini disertakan penilaian pengamat
terhadap kemampuan guru dalam mengelola proses IPS tentang materi ajar Negara-negara
Asia Tenggara yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwing.
Tabel
4.4
Kemampuan Guru
dalam Mengelola Pembelajaran Siklus II
No.
|
Indikator Kemampuan
|
Nilai
|
|
Kuantitas
|
Kualitas
|
||
1
|
Kemampuan menguasai kondisi awal pembelajaran
|
74
|
Cukup Mampu
|
2
|
Kemampuan menjelaskan langkah-langkah
pembelajaran
|
75
|
Cukup Mampu
|
3
|
Kemampuan memotivasi siswa di awal
pembelajaran.
|
70
|
Cukup Mampu
|
4
|
Kemampuan mengondisikan siswa untuk mengikuti
kegiatan inti pembelajaran.
|
72
|
Cukup Mampu
|
5
|
Kemampuan menyajikan materi pembelajaran
|
73
|
Cukup Mampu
|
6
|
Kemampuan bertanya kepada siswa dan menjawab
pertanyaan dari siswa.
|
74
|
Cukup Mampu
|
7
|
Kemampuan membimbing dan mengarahkan siswa
dalam belajar.
|
71
|
Cukup Mampu
|
8
|
Kemampuan membahas tugas.
|
72
|
Cukup Mampu
|
9
|
Kemampuan memberikan penghargaan kepada siswa
yang unggul dalam kemampuan memenuhi tuntutan pembelajaran.
|
75
|
Cukup Mampu
|
10
|
Kemampuan memberi simpulan sehubungan dengan
materi pembelajaran yang telah disampaikan kepada siswa.
|
74
|
Cukup Mampu
|
11
|
Kemampuan melaksanakan evaluasi dan mengawasi
jalannya evaluasi.
|
73
|
Cukup Mampu
|
12
|
Kemampuan memberikan bahan tindak lanjut.
|
72
|
Cukup Mampu
|
13
|
Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran.
|
75
|
Cukup Mampu
|
Jumlah
|
950
|
|
|
Rata-rata
|
73,1
|
|
Keterangan :
Nilai
76, 00 - 100,00, berarti mampu
Nilai
56,00 - 75,00, berarti cukup mampu
Nilai
26,00 - 55,00, berarti kurang mampu
Nilai
1,00 -
25,00, berarti tidak mampu
Bukan saja guru
yang dinilai kemampuannya, tetapi juga siswa dalam mengikuti jalannya proses
pembelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara yang disajikan
dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing, baik dilihat
dari minat, perhatian, partisipasi, maupun kemampuan melakukan presentasi,
seperti tertuang pada tabel berikut.
Tabel 4.5
Aktivitas Siswa
dalam Mengikuti Pembelajaran
Siklus II
No.
|
Subjek
|
Minat
|
Perhatian
|
Partisipasi
|
Presentasi
|
||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Subjek 01
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
2
|
Subjek 02
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
3
|
Subjek 03
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
4
|
Subjek 04
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
5
|
Subjek 05
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
6
|
Subjek 06
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
7
|
Subjek 07
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
8
|
Subjek 08
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
9
|
Subjek 09
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
10
|
Subjek 10
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
11
|
Subjek 11
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
12
|
Subjek 12
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
13
|
Subjek 13
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
14
|
Subjek 14
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
15
|
Subjek 15
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
16
|
Subjek 16
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
17
|
Subjek 17
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
18
|
Subjek 18
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
19
|
Subjek 19
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
20
|
Subjek 20
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
21
|
Subjek 21
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
22
|
Subjek 22
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
23
|
Subjek 23
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
24
|
Subjek 24
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
25
|
Subjek 25
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
26
|
Subjek 26
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
27
|
Subjek 27
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
|
|
√
|
|
Keterangan:
Nilai 4
:Baik
Nilai 3
:Cukup Baik
Nilai 2
: Kurang Baik
Nilai 1
: Tidak Baik
Selain itu, melalui evaluasi pembelajaran
siklus II dapat diketahui nilai kemampuan untuk masing-masing siswa.Dari 27 orang
siswa diketahui ada 24 orang (91,17%) yang dinyatakan mampu memenuhi tuntutan
pembelajaran IPS tentang materi ajar negara-negara Asia Tenggara yang disajikan
dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing. Sementara itu
selebihnya dari mereka, yakni 3 orang siswa
(8,03%) dinyatakan masih cukup mampu.
Adanya nilai yang diperoleh masing-masing siswa pada siklus II, tampak
seperti pada tabel berikut.
Tabel
4.6
Nilai
Hasil Belajar Siswa pada Siklua II
No.
|
Subjek
|
Sesudah PTK Siklus II
|
||
Tuntutan 1
|
Tuntutan 2
|
NK
|
||
1
|
Subjek 01
|
23
|
52
|
75
|
2
|
Subjek 02
|
21
|
54
|
75
|
3
|
Subjek 03
|
20
|
58
|
78
|
4
|
Subjek 04
|
19
|
56
|
75
|
5
|
Subjek 05
|
20
|
60
|
80
|
6
|
Subjek 06
|
20
|
59
|
79
|
7
|
Subjek 07
|
18
|
60
|
78
|
8
|
Subjek 08
|
19
|
56
|
75
|
9
|
Subjek 09
|
24
|
63
|
87
|
10
|
Subjek 10
|
22
|
41
|
63
|
11
|
Subjek 11
|
18
|
52
|
70
|
12
|
Subjek 12
|
19
|
59
|
78
|
13
|
Subjek 13
|
25
|
69
|
94
|
14
|
Subjek 14
|
25
|
67
|
92
|
15
|
Subjek 15
|
14
|
49
|
63
|
16
|
Subjek 16
|
14
|
56
|
70
|
17
|
Subjek 17
|
14
|
55
|
69
|
18
|
Subjek 18
|
19
|
56
|
75
|
19
|
Subjek 19
|
17
|
62
|
79
|
20
|
Subjek 20
|
20
|
60
|
80
|
21
|
Subjek 21
|
14
|
50
|
64
|
22
|
Subjek 22
|
20
|
60
|
80
|
23
|
Subjek 23
|
23
|
52
|
75
|
24
|
Subjek 24
|
21
|
54
|
75
|
25
|
Subjek 25
|
20
|
58
|
78
|
26
|
Subjek 26
|
19
|
56
|
75
|
27
|
Subjek 27
|
20
|
60
|
80
|
Berdasarkan
hasil refleksi siklus II, dapat diketahui keberhasilan dan kegagalan IPS
tentang materi ajarNegara-negara Asia Tenggara yang disajikan dengan
menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwingdi
siklus II.Adapun hasilnya, sebagai berikut.
1.
Kemampuan
guru dalam mengelola proses IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara
yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model
Quantum Teaching dan Snowball Throwingpada siklus II,
diketahui lebih baik dari siklus sebelumnya. Peningkatan kemampuan guru
tersebut ditunjukkan oleh kemampuannya dalam menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi serta menindaklanjuti
hasilnya. Berdasarkan hasil penilaian pengamat, diperoleh rata-rata nilai cukup
mampu untuk masing-masing tahap dalam proses pembelajaran tersebut.
2.
Aktivitas
belajar siswa dalam mengikuti proses IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia
Tenggara yang disajikan dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwingpada siklus II,
diketahui lebih baik dari siklus sebelumnya. Hal ini diketahui dari partisipasi,
minat, perhatian, dan kemampuan melakukan presentasi pada masing-masing siswa
yang sebelumnya (pada siklus I) banyak yang kurang partisipasi, kurang berminat,
kurang perhatian, dan kurang mampu presentasi setelah mengikuti proses pembelajaran
IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara yang disajikan dengan
menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwingsiklus
II meningkat pada kategori ketiga dan keempat. Dari 27 orang siswa, diketahui
ada 25 orang (81,57%) yang sebelumnya kurang partisipasi, kurang berminat, kurang
perhatian, dan kurang mampu presentasi meningkat menjadi cukup partisipasi, cukup
berminat, cukup perhatian, dan cukup bermotivasi. Sementara itu, 7 orang siswa (18,43%)
lainnya yang sebelumnya diketahui cukup partisipasi, cukup berminat, cukup perhatian,
dan cukup mampu presentasi menjadi mampu berpartisipasi, minatnya lebih tinggi,
mampu memperhatikan, dan lebih mampu presentasi. Perubahan tersebut didasarkan
pada hasil penilaian pengamat, seperti tertuang pada tabel 4.5.
3.
Dari
27 orang siswa diketahui secara keseluruhan dinyatakan tuntas.
4.
Cukup
tercapainya target kinerja yang diharapkan, baik oleh guru maupun siswa lebih
disebabkan karena masing-masing sudah terbiasa dengan langkah-langkah belajar mengajar
IPS tentang materi ajarNegara-negara Asia Tenggara berdasarkan langkah-langkah
kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwing.
b.
Pembahasan
Setelah melakukan penelitian dan
menganalisis hasilnya, terbuktilah bahwa penggunaan kolaborasi model Quantum
Teaching dan Snowball Throwingdalam pembelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara
Asia Tenggara dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa tidak saja terjadi pada siklus II tetapi pada
siklus I pun seluruh siswa mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik dari
sebelumnya.
Meningkatnya aktivitas belajar siswa
pada siklus I ditandai oleh partisipasi, perhatian, minat, dan kemampuan
melakukan presentasi.Itu sebabnya, hasil belajar masing-masing siswa pada
siklus I mencapai kriteria ketuntasan minimal.Namun, hasil tersebut masih
dianggap kurang memuaskan bagi guru dan juga siswa.Atas dasar itu, maka
dilaksanakan kembali siklus II. Adanya
peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran siklus I,
tidak terlepas dari meningkatnya eksistensi kemampuan guru dalam mengelola proses
pembelajaran IPS tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara yang disajikan
dengan menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing.
Peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa kembali terjadi pada proses pembelajaran IPS
tentang materi ajar Negara-negara Asia Tenggara yang disajikan dengan
menggunakan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball
Throwingsiklus
II. Partisipasi, perhatian, minat, dan kemampuan siswa dalam melakukan
presentasi pada siklus II ini, jauh lebih baik daripada siklus I. Sehingga
hasil belajarnya pun turut meningkat lebih baik.Bahkan keseluruhan siswa
perolehan nilainya melebihi nilai kriteria ketuntasan minimal yang telah
ditetapkan.Hal ini pun tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan hasil usaha
guru.
Dengan demikian, penggunaan kolaborasi model
Quantum Teaching dan Snowball Throwing dalam
pembelajaran IPS tentang materi ajarNegara-negara Asia Tenggara untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, dinyatakan berakhir pada siklus II. Hal
ini karena baik guru maupun siswa sudah merasa puas dengan peningkatan yang
terjadi pada siklus II.
I.
Simpulan
Setelah melakukan serangkaian kegiatan
hingga diperoleh data dan kemudian dibahas, akhirnya dapat diambil suatu
simpulan untuk menjawab setiap pokok masalah yang diajukan dalam penelitian
ini.Simpulan dimaksud, sebagai berikut.
1.
Langkah-langkah
penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching
dan Snowball Throwinguntuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak dalam
pembelajaran IPS tentang materi ajarnegara-negara Asia Tenggara, meliputi: (1)
menyusun rencana sesuai dengan ketentuan, (2) melaksanakan KBM sesuai dengan
rencana, (3) mengevaluasi kemampuan siswa dalam memenuhi setiap tuntutan
pembelajaran, dan (4) menindaklanjuti hasilnya dengan cermat.
2.
Peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS tentang materi ajarNegara-negara
Asia Tenggara setelah digunakan kolaborasi penggunaan model Quantum
Teaching dan Snowball Throwing, terjadi secara bertahap. Peningkatan aktivitas
belajar siswa secara bertahap tersebut ditunjukan dalam beberapa hal, seperti
partisipasi, minat, dan kemampuan melakukan presentasi. Demikian pun dengan
peningkatan hasil belajarnya, secara bertahap mampu ditunjukkan siswa dalam
memenuhi setiap tuntutan pembelajaran.
3.
Penggunaan kolaborasi model Quantum Teaching dan Snowball Throwing dalam pembelajaran IPS
tentang materi ajarNegara-negara Asia Tenggara terbukti dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Cimerak.
Bobbi DePorter. 2002. Quantum Teaching. Boston: Allyn Bacon.
Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah.
Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas.
2001. Buku 1 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah. Jakarta:
Depdiknas.
.... 2002.
Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD, SDLB, SLB Tingkat Dasar, dan MI.
Jakarta: Depdiknas.
......2006.
Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Kurikulum Berbasis
Kompetensi.Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas.
Indra Jati
Sidi. 2004. Pelayanan Profesional, Kegiatan Belajar-Mengajar yang Efektif.
Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Nana
Sudjana.2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Purwadi
Suhandini. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Lemlit UNNES.
Puskur
Balitbang Depdiknas. 2003. Model-model Pembelajaran Efektif.
(www.puskur_balitbang_depdiknas.com).upadate 28 Agustus 2007.
Supardi, Suharsimi
Arikunto, Suhardjono. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Yakarta: Bumi Aksara.
Tim MKDK
IKIP Semarang. 1990. Psikologi Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.
Tintin
Heryatin. 2004. Pengembangan Model Pembelajaran Quantum dalam Mata Pelajaran
Bahasa Inggris dalam Rangka Pengembangan Kurikulum Berbasis Sekolah. Hasil
Penelitian. (http://pps.upi.edu/org/ abstrakthesis/abstrakpk/abstrakpk04.html).
update 28 Agustus 2007.
Zainal
Aqib. 2007. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.